Yogyakarta merupakan
ibu kota dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Banyak orang yang
masih menyebut Yogyakarta sebagai kota Jogja karena menurut ejaan lama, kota
ini ditulis sebagai "Djogjakarta". Terlepas dari penamaannya, DIY
adalah satu-satunya provinsi dengan sistem pemerintahan kerajaan di Indonesia
yang disebut Kesultanan. Gubernur DIY tidak dipilih melalui pemilu umum, melainkan
turun temurun dari silsilah sultan Yogyakarta. Di tahun 2021, sultan yang menjabat
adalah Hamengkubuwana X.
Jika dilihat dari segi
historis, Yogyakarta memiliki kontribusi yang besar di saat penjajahan dan
setelah kemerdekaan Indonesia. Di saat Indonesia diancam Agresi Militer
Belanda, Yogyakarta bersedia menjadi ibu kota negara sementara selama tiga
tahun dari 1946 sampai 1948 dan 1949 sampai 1950. Selain itu, Sri Sultan
Hamengkubuwono IX (sultan yang menjabat saat Indonesia baru merdeka) memberi dukungan
dana sebesar 6.000.000 Gulden kepada negara Indonesia. Bersumber dari Nusa
Daily, uang tersebut jika dikurskan ke rupiah di tahun 2020 bernilai
Rp.48.000.000.000 (empat puluh delapan miliar). Dana yang besar ini sangat
membantu Indonesia yang baru saja merdeka dan memiliki sumber daya yang
terbatas. Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga menunjukkan kesetian dengan rela
bergabung menjadi bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) di saat
banyak provinsi berpikiran untuk memisahkan diri dari Indonesia. Tidak hanya
itu, Yogyakarta merupakan saksi bisu dari Serangan Umum 1 Maret 1949.
Karena memiliki sejarah
yang panjang, Yogyakarta memiliki banyak wisata sejarah, seperti Museum Benteng
Vredeburg, Monumen Yogya Kembali, Museum Perjuangan, dan Museum Monumen
Pangeran Diponegoro.
Tidak hanya terkenal karena kontribusinya yang besar, Yogyakarta juga identik dengan budaya Jawa. Seperti disebut di atas, Yogyakarta masih mempertahankankan pemerintahan kesultanan. Maka dari itu, bangunan pemerintahan seperti keraton masih berdiri dan dalam kondisi baik. Bahkan, bangunan-bangunan tersebut dibuka untuk umum. Beberapa lokasi wisata bertemakan budaya di Yogyakarta adalah Keraton Yogyakarta, Museum Batik, Museum Sonobudoyo, Taman Sari, dan Kotagede.
Untuk menikmati pertunjukkan budaya seperti tari dan teater Jawa, kita bisa mengunjungi Pura Pakualam, Pendopo Sri Manganti di Keraton Yogyakarta, Auditorium RRI, dan Candi Prambanan. Mereka biasanya menampilkan tari tradisional. Khusus di Candi Prambanan ditampilkan kisah Ramayana, dan di Auditorium RRI ditampilkan pagelaran ketoprak.
Tidak lengkap rasanya
jika mengunjungi Yogyakarta tanpa mencicipi makanan khas dan memborong
cinderamata murah meriah di Malioboro. Makanan khas Yogyakarta yang paling
terkenal adalah gudeg, yaitu nangka muda yang direbus dengan santan dan gula
jawa sampai matang. Gudeg Yu Djum adalah salah satu restoran yang terkenal
dengan rasa gudegnya yang otentik. Untuk dibawa pulang, kita bisa membeli bakpia,
yangko, dan geplak. Tenang saja, bakpia sudah mengikuti tren zaman, kok. Sekarang
sudah tersedia banyak varian rasa bakpia seperti green tea, keju, dan taro.
Kalau mau merasakan yang asli, kita bisa membeli yang rasa original.
Yogyakarta juga dijuluki
sebagai kota pelajar. Salah satu alasannya karena di Yogyakarta tedapat lebih
dari 40 perguruan tinggi terakreditasi, salah satunya adalah Universitas Gadjah
Mada yang berdiri pada tahun 1949. Selain itu, terdapat banyak wisata edukasi
bagi anak-anak seperti Taman Pintar, Museum Dirgantara, dan Museum Mainan Anak
Kolong Tangga. Kita bahkan bisa mengunjungi wisata modern seperti De Mata Trick
Eye, Ice Cream World, dan Sindu Kusuma Edupark.
Yogyakarta terkenal
akan sejarahnya, kontribusi kepada negara, budaya, makanan enak, cinderamata
murah, dan wisata edukasi yang ramah bagi anak-anak. Fasilitas penginapan dan
transportasi yang baik juga menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata
internasional. Tidak heran, banyak wisatawan yang selalu ingin kembali ke kota
ini.
1. Referensi
http://daftarwisatajogja.blogspot.com/2016/10/nonton-tari-tradisional-jogja-yang-khas.html
https://tirto.id/sejarah-pindahnya-ibu-kota-ri-dari-jakarta-ke-yogyakarta-pada-1946-efr4
Sumber
Gambar:
1.
Wallpapercave.com
2.
Wikipedia
3.
Vredeburg.id
4.
Garasi
Jogja
5.
Traveling
Yuk
6. Liputan6.com
7. Hargatiket.net







Comments
Post a Comment