Harry Potter: Novel favorit saya sepanjang masa
Menulis dan membaca adalah dua kegiatan yang erat sekali kaitannya. Saya menulis sesuatu, orang lain yang membacanya. Ziggy menerbitkan buku baru, saya merupakan salah satu yang membaca buku barunya.
Namun, menjadikan menulis sebagai rutinitas kadang kala melahirkan kekhawatirkan, kalau ntar ngga dibaca gimana ya? Kalau ntar ngga ada yang suka, apa aku akan terus menulis?
Kekhawatiran ini juga kerap muncul ketika saya menulis cerpen atau novel dengan tujuan komersil, dapat royalti lah intinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti 'Apa nanti bakalan diterima penerbit?', 'Apa nanti bakalan ada yang beli?' kerap menghantui saya ketika menyelesaikan naskah. Saya mengharapkan diri saya mampu untuk membeli... umm katakanlah skincare some by mi yang merah itu dengan royalti saya, tapi jika tidak ada yang mau membeli buku saya ya apa saya boleh buat?
Dari kecil, saya sudah bercita-cita menjadi penulis. Beranjak SMP, ada satu kata yang nambah, pengin jadi 'penulis novel'. 20 tahun sudah umur saya, dan saya belum punya satu buku pun. Ya itu, gara-gara kebanyakan mikir dan kebanyakan nunda.
Bohong namanya kalau saya merasa baik-baik saja jika tidak ada yang membaca tulisan saya. Padahal untuk menulis satu artikel saja, paling tidak dibutuhkan satu jam untuk menulis, mengedit, menulis, dan mengedit lagi.
Rasa-rasanya, buat apa sih menulis tapi ngga dibaca?
Kemudian, perasaan sedih ini membuat saya berpikir, tujuan utama saya menulis itu apa? Karena saya suka, jawab saya. Karena saya memang pengin jadi penulis. Karena saya butuh menulis.
Kenapa butuh menulis?
Bagi saya, menulis tidak hanya sekadar hobi tetapi juga kebutuhan. Beberapa, atau malah semua artikel saya mencerminkan pendapat saya akan suatu hal. Saya ingin melepaskan opini saya, apa yang saya yakini. Perkara akan dibaca atau tidak, biarlah itu menjadi pemikiran terakhir.
Meski begitu, jika kita merasa memang artikel kita ingin dibaca orang, share lah linknya. Jika tetap tidak dibaca, chat saja orang-orang terdekat untuk meminta bantuan mereka membaca artikel kita dan memberi pendapat apakah artikelnya ada kekurangan.
P.S. Beberapa orang memiliki kesempatan dan keberuntungan untuk langsung booming setelah membuat karya, tapi banyak juga yang harus ditolak penerbit berkali-kali, revisi ribuan kali, baru terkenal. Memang sulit mengawali suatu hal, tapi menyerah sama sekali bukan pilihan ^_^
P.S.S. J.K Rowling yang tenar karena Harry Potter series ditolak berkali-kali oleh penerbit. Jika ia menyerah, saya ngga akan sebucin ini pada Harry Potter. Kenal pun tidak :v
Semangat membaca! Semangat menulis! Semangat berkarya! 😗😚😍
Sumber foto:

Comments
Post a Comment