Kalau bicara masalah menulis cerpen, puisi, karya ilmiah, novel, jurnal ya sulit lah kalau tidak bakat apalagi jika tidak pernah menulis sebelumnya, teriak kita semua. Rasanya kita kehabisan kata-kata padahal kalau nggosip di whatsap lancarnya enggak ketulungan. Padahal sama-sama menulis kan ya.
Bagi sebagian mahasiswa, disuruh nulis esai, paper, atau apa lah itu namanya, adalah tugas yang abstrak, alias ngga mudeng mau nulis apa dan mau mulai dari mana. Ditambah harus cari sumber sana sini, setelah itu harus menemukan kalimat sendiri supaya tidak terkesan plagiat.
Bagiku juga begitu. Menulis merupakan kegiatan dimana aku dituntut untuk menghasilkan tulisan yang baik tapi juga enak dibaca. Berbobot sekaligus ringan. Lha, trus piye ya?
Waktu masih SD, aku sering menghabiskan waktu dengan menulis puisi di buku tulis SIDU isi 38 lembar. Puisinya kalau dijumlah sudah 60an tuh, kalau dibukukan sudah bisa setenar Abdurahman Faiz deh, dengan judul berita "Siswa Kelas Empat Menulis Puluhan Puisi" hehehe. Namun, sedihnya buku itu dipinjam oleh guru dan ((lupa)) ditaruh dimana, jadi ya selamat tinggal karya-karya berhargaku.
Menulis puisi hingga 60an dengan usia sekitar sepuluh tahun itu, bagaimana caranya ya? Seingatku, aku terobsesi menulis puisi karena di Majalah Bobo ada halaman khusus untuk puisi dan gambar dari pembaca. Menurutku, puisi-puisinya lucu dan kadang 'wah', 'wah' dalam artian kok bisa anak kecil membuat puisi bagus banget (opini jaman SD). Sejak itu, aku selalu menulis tanpa banyak mikir. Kalau dipikir-pikir, puisiku biasa saja, kosa katanya juga mudah dimengerti. Yang kuingat adalah puisi tentang matematika (iya dulu masih sahabatan sama matematika) bahwa matematika kadang bikin sakit kepala tapi kalau kita mau mencintainya, kita bisa sadar kalau matematika itu istimewa. Kira-kira begitulah. Puisiku seperti diaryku dalam bentuk lebih 'nyeni'.
Sayangnya, waktu SMP, aku menyadari ada banyaaaak sekali puisi yang memiliki cara penyampaian yang lebih baik dariku. Aku merasa puisiku hanya remah-remah kue dibandingkan puisi mereka. Saat itu aku sadar, menulis itu mudah, namun untuk mencapai 'level' tertentu, ternyata sulitnya minta ampun.
Waktu SMP kelas dua, aku meninggalkan puisi dan beralih ke cerpen. Ndilalah, disuruh ikut lomba FLS2N. Eh ndilalah lagi maju sampai pro vinsi. Kayak kaget setengah mati "Emang tulisanku bagus banget ya?". Di tingkat provinsi sayangnya hanya dapat sepuluh besar. Walau kecewa, aku lumayan senang sih sudah dapat uang pembinaan hehehe.
Setelah tahun 2014 (tahun aku menang FLS2N), aku merasa termotivasi untuk menulis (KARENA DAPET DUWIT), tapi realita enggak segampang itu. Aku mengikuti beberapa lomba dan nyaris menjadi pemenang (nyaris dapat duwit maksudnya). Sampai akhirnya aku lelah dan merasa menulis untuk uang.
Sampai tahun 2018, aku hanya berhasil menulis 3 novel yang SEMUANYA berhenti di tengah jalan. Menyedihkan, bukan?
Sudah enam tahun berlalu sejak 2014, aku menyadari kesalahanku yaitu membuat alasan yang menghambatku menulis, seperti 'ah besok aja deh', 'lagi sibuk, kalau libur aja deh', 'eh ngetik surat dulu deh, kan aku sekretaris, sama-sama nulis, kan?!'. Time has passed. Sekarang aku enggak punya apa-apa. Novel enggak selesai. Cerpen ditolak. Puisi sudah kaku sekali nulisnya.
Untuk nostalgia, aku membuka dokumen lama yang berisi cerpenku jaman SMP dan SMA, dan aku terkejut. Aku merasa 'wah pinter juga aku' waktu membacanya. Aku bahkan tidak sanggup menulis sebaik itu di tahun ini. Kesimpulannya, ternyata keahlianku bisa memudar karena jarang sekali aku gunakan.
Jadi, kalau ditanya nulis itu susah atau gampang, aku akan jawab kencang-kencang: SUSAH! Asli, sih, susah. Untuk nemu ide mau nulis apa, gimana pembagian nulisnya, nulis darimana, ditutupnya kayak apa, ntar di tengah-tengah bosen harus gimana. Itu sulit banget. Eits, tapi tapi, walau sulit, bukan berarti menulis adalah hal yang paling sulit di dunia.
Kita bisa menulis dengan baik, dengan modal niat, usaha, dan latihan. Jujur saja, sejak postingan yang "Being a bookworm: How", aku merasa malas untuk menulis lagi. Sampai akhirnya, temanku bertanya, "Ly, kok ngga posting blog lagi." Aku berasa kayak tertampar.
Aku sudah membuang 6 tahun dengan segudang alasan, maka aku memaksa diriku untuk nulis lagi.
By the way, di sini aku akan membagi tips menulis yang aku dapat dari beberapa orang;
1. Tentukan ide atau topik pembahasan
2. Tulis garis besar yang akan disampaikan atau kerangka tulisan
3. Paksa diri untuk menyelesaikan kerangka tulisan itu menjadi tulisan utuh
4. Koreksi ulang dan minta pendapat orang lain
5. Jangan pernah berhenti menulis
Basic banget ya tipsnya, tapi ya memang seperti itu :v
Kalau perlu, ciptakan suasana yang nyaman dan pilih waktu yang enak untuk menulis.
Berlatih menulis tidak harus langsung menulis novel atau jurnal, menulis buku harian atau opini singkat mengenai suatu hal juga bagus. Kalau kata Tere Liye (di acara talkshow di SMA dulu), terus menulis minimal 50 (atau 100 ya lupa) per hari. Kalau kata pepatah sih, bisa karena biasa :>
Semangat menulis!
Cheers!
Terima kasih juga sudah membaca tulisan ini!
Referensi:

Susah cari idenya, dan kalau sudah nemu ide, susah mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan.
ReplyDeleteHalo unknown! Terima kasih ya sudah mampir. Kalau yang kulakukan selama ini, mencari ide biasanya kulakukan dengan mengamati, membaca atau mendengarkan. Terkadang ide bermunculan dari sekitar kita atas isu yang lagi hot-hotnya atau malah sudah biasa terjadi. Setelah tahu idenya apa, aku biasakan untuk nulis intinya aku mau ngomong apa sih, baru ditulis. Ga sedikit juga yang merasa 'kok tulisanmu belibet ya' dan ditolak beberapa platform menulis seperti mojok (hiks), tapi masukan dari pembaca bagus lho karena pada akhirnya mereka lah yang akan membacanya.
Delete