Skip to main content

Bitter Honey: Polygamy in Bali Movie


Film yang mengusung tema poligami di Bali ini diunggah pertama kali pada tanggal 3 Februari 2020 dengan versi lengkap. Mengapa lengkap? Karena proses merekam film ini dilakukan selama sekitar tujuh tahun. Sehingga, ada beberapa cuplikan bagian dari beberapa tahun yang lalu. Film yang diunggah oleh Elemental Productions ini telah ditonton selama 344.511 kali (tanggal 14 Juni 2020). Jumlah yang masih sedikit untuk kerja keras selama tujuh tahun serta pesan-pesan yang ada di film ini.

Poligami merupakan tema perbincangan yang relatif sensitif dan sering menimbulkan perdebatan di antara pihak yang pro dan kontra. Saya memutuskan untuk menonton film ini dua kali dan mencatat setiap poin yang disampaikan narasumber dengan secermat mungkin  supaya saya bisa membagikan isi dari film ini jika kalian tidak memiliki waktu luang untuk menontonnya.

Film ini memiliki durasi satu jam dua puluh satu menit satu detik yang dibagi dalam tujuh bagian yaitu:
1. Cinta dan Pernikahan
2. Kekuasaan
3. Kekerasan
4. Anak-anak
5. Nafsu dan Ketidaksetiaan
6. Perceraian
7. Ketabahan dan Kebebasan


Terdapat tiga keluarga poligami yang direkam, yaitu:
1. Keluarga dari Sadra dengan dua istri, Purniasih dan Murni
2. Keluarga dari Darma dengan lima istri, Kiawati (sudah bercerai), Sulasih, Rasti, Suci Ati, Purnawati
3. Keluarga dari Tuaji dengan sepuluh orang istri, lima di antaranya masih hidup, dua di antaranya adalah kakak beradik

Sebenarnya ada 47 poin yang saya catat, namun tidak mungkin saya jabarkan sedetail itu. Berikut adalah poin-poin yang menonjol dalam film ini. 

1. Apa Alasan Narasumber Berpoligami?
Di film ini, beberapa penduduk desa berpendapat tentang beberapa alasan masyarakat di sana melakukan poligami. 

Yang pertama adalah cinta buta, jika sudah cinta ya mau gimana lagi, apa pun resiko dan status kekasih trabas saja.

Yang kedua adalah pemalsuan identitas calon suami. Hal ini lah yang dilakukan oleh Sadra dan Darma, mereka tidak menyebutkan status mereka pada perempuan yang sedang mereka dekati, sehingga istri kedua dan seterusnya bersedia menikah. 

Yang ketiga adalah jika perempuan menyatakan ingin atau menawarkan menjadi istri berikutnya, maka sudah jelas pihak lelaki bersedia. Dalam dialog ini, narasumber juga menyebutkan analogi lelaki adalah kucing dan perempuan tak lain tak bukan adalah gesek (ikan). Jika ada gesek disuguhkan, kucing akan menangkap. Sayangnya wahai penganut analogi ini, kucing bertindak melalui insting, sementara manusia diberkahi akal, sehingga analogi tersebut tidaklah relevan. 

Yang terakhir adalah karena orang tua pelaku poligami juga memiliki pernikahan poligami. Jadi semacam mereka menganggap itu sebagai kewajaran.

Ada pula satu yang disebut yaitu karma. Sadra sendiri merasa bingung mengapa ia bisa berpoligami. Ia pikir, itu adalah salah dari karmanya dia, sehingga dia hanya mengikuti saja nasib yang sudah tertulis untuknya. 

Pola pikir seperti itu sama saja tidak mau mengakui bahwa kita bisa mengontrol diri untuk melakukan apa pun dengan memikirkan setiap resiko. Kita bisa bilang tidak, dan bisa iya. Maka, dari setiap keputusan itu ada resiko yang harus kita hadapi. Hal ini tidak berhubungan dengan karma sama sekali. Plus, nasib adalah sesuatu yang bisa diusahakan dan diubah.

Selain karma, Darma berpendapat bahwa ia memang berambisi untuk mempunyai banyak istri. Biar rumah ramai, katanya. Saya tersenyum getir mengetahui alasannya, yang bagi saya tidak bisa dipandang dewasa dari sudut mana pun.


2. Apakah Para Istri Merasa Bahagia?
Istri-istri mereka, terutama istri pertama merasa sangat cemburu dan sakit hati. Purniasih (istri pertama Sadra) menuturkan ia merasa sedih ketika suaminya tidur dengan istri kedua (Murni), sementara ia tidur dengan anak laki-lakinya.

Sulasih (istri kedua Darma) tidak tahu bahwa Darma menikah lagi dengan Rasti (istri ketiga Darma). Begitu pun Rasti, dia tidak tahu bahwa Darma sudah beristri. Mereka berdua merasa sedih ketika tahu hal ini. "Mana mungkin satu ranjang ada dua cinta. Ya ngga mungkin ya," begitu kira-kira ucapan Rasti.

Suci Ati (istri keempat Damar) menuturkan bahwa suaminya menikah lagi untuk kelima kalinya padahal dia baru saja melahirkan anak keduanya. Baru sebelas hari umur si bayi ketika Suci harus menerima kenyataan itu. Lalu, kalau kita pikir-pikir, sebuah hubungan pernikahan lazimnya diawali dengan masa perkenalan seperti pacaran. Maka, jika menengok waktu pernikahan kelima Darma dan kelahiran anak kedua Suci, artinya Darma berpacaran selagi istrinya sedang hamil. Saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa sakitnya jika saya harus merasakan secuil saja dari perasaan Suci.



3. Apakah Ada Persetujuan Istri Terdahulu?
Seperti yang disebutkan di atas, Sulasih (istri kedua Darma) tidak mengetahui rencana Darma untuk menikah lagi. Berarti, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada persetujuan bahkan pemberitahuan kepada istri terdahulu.

Kemudian, Rasti (istri ketiga Darma) bercerita bahwa ia dan Sulasih sudah meminta supaya Darma mengurungkan niat untuk menikah keempat kalinya, namun Darma tidak mendengarkan. Sehingga, sekali lagi persetujuan dari istri terdahulu dianggap sebagai angin lalu, sama sekali bukan hal yang penting. Padahal perkara ini merupakan salah satu syarat poligami yang diatur UU, walau tentu saja mudah saja diakali dengan memaksa menulis surat persetujuan misalnya, memalsukan tanda tangan, memberi ancaman kepada istri terdahulu supaya setuju, dan seterusnya.

Dalam keluarga Sadra, ia berselingkuh dengan istri keduanya sekaligus berbohong akan identitasnya yang sesungguhnya. Hingga akhirnya istri keduanya hamil, Sadra memaksa Purniasih (istri pertamanya) untuk menyetujui pernikahan keduanya dengan ancaman bahwa ia akan mengirim sang istri pulang ke rumah orang tua tanpa anak-anak mereka. Purniasih terpaksa setuju, walau sesungguhnya ia sangat kontra dengan poligami.

Dalam kasus poligami Tuaji, anaknya menceritakan bahwa ayahnya merupakan veteran yang terhormat, sehingga jika ia berniat menikahi seseorang, pihak perempuan pasti akan setuju, entah karena takut atau memang merasa terhormat mendapat kesempatan ini.



4. Bagaimana Mereka Mencukupi Kebutuhan Hidup?
Tidak dijelaskan dengan rinci mengenai nominal atau kisaran pendapatan mereka. Sadra bekerja sebagai pedagang (dalam subtitle tertulis street vendor) dan dalam video ia bekerja di bengkel kerajinan atau semacamnya bersama Purniasih (istri pertamanya), istri kedua pun bekerja namun tidak dijelaskan rinci. Dari blog film ini, tertulis Darma bekerja sebagai pengawas sambung ayam dan menjadi penjaga keamanan untuk beberapa acara. Ia juga hobi berjudi. Istri-istrinya memiliki pekerjaan yang berbeda, ada yang berjualan, menjadi juru masak, dan membuka usaha cuci setrika (ini implisit karena Suci sering direkam sedang menyetrika baju). Tuaji sekarang bekerja sebagai orang-yang-biasa-meminjamkan-uang, saya tidak paham dia renternir atau bukan. Istri-istrinya tidak bekerja, mereka sibuk mengurus rumah dan mengurus segala macam perlengkapan sembahyang.

Purniasih menuturkan, Sadra jarang memberi nafkah. Jika gajian, Sadra akan langsung memberikan ke istri kedua. Namun, Murni (istri kedua Sadra) menuturkan, bahwa Sadra juga jarang memberinya nafkah. Bahkan untuk bayar listrik saja tidak, apalagi biaya kos yang menurutnya sudah tidak dibayar hampir setahun. Ia bahkan berhutang untuk biaya pendidikan anaknya. Lantas, kemana uang Sadra sesungguhnya bermuara?

Anak-anak Darma berpendapat, ayah mereka beruntung memiliki istri-istri yang bekerja. Jika tidak, ayahnya tidak akan sanggup menafkahi seluruh keluarga. Saya rasa, pendapat itu benar. Menghidupi 5 istri dengan belasan anak pasti berat, butuh uang yang banyak untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuh tersier, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

Menengok keadaan para istri Tuaji yang memiliki rumah sendiri (bukan kos), serta pekerjaan Tuaji yang meminjamkan uang, saya bisa menyimpulkan barangkali untuk urusan ekonomi, keluarga mereka tidak memiliki banyak hambatan.


5. Apakah Pernah Terjadi KDRT?
Purniasih (istri pertama Sadra) menceritakan bagaimana suaminya akan memukulnya dengan bambu sampai bambu itu patah dan menyisakan bekas di lengannya, jika ia berbuat salah. Ia juga bilang bahwa Sadra bahkan sampai hati memukul ibu kandungnya.

Istri keempat Darma, yaitu Suci Ati, pernah ditendang bahkan sampai pingsan.

Istri kelima Darma, yaitu Purnawati menuturkan bahwa suaminya memang keras, kerap kali memukul jika ada yang berbuat salah. Maka dari itu, semua anggota keluarga patuh supaya tidak ada keributan.

Anak-anak Darma menceritakan bagaimana Darma memperlakukan mereka. Jika Darma marah, ia akan mengejar anak-anaknya dengan sepotong kayu di tangan. Anak-anaknya akan ditangkap lalu tangan mereka diikat di pohon yang terdapat banyak semut apinya. Setelah itu, Darma akan menceburkan kepala mereka ke air, menendang, dan memukul mereka. Saya melihat mereka tersenyum, senyumnya yang pahit ketika menceritakan hal ini. Saya harap, semua anak tahu bahwa penyiksaan adalah sebuah bentuk kejahatan yang bisa dilaporkan. Namun saya lebih berharap lagi, setiap anak di dunia ini memiliki orang tua yang baik hatinya.

Yang mengejutkan, ternyata Sadra merupakan anak dari keluarga yang kasar. Ia pernah melihat ibunya dipukul sang ayah sampai berdarah. Sadra kecil merasa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa. Sayangnya, ketika dewasa ia malah tega memukul ibunya dan juga istrinya. Saya harap Degung, antropolog yang berbincang dengan Darma, dapat mengembalikan kembali ingatan Darma betapa sakitnya jika dianiaya oleh seseorang yang kita sayangi.



6. Adakah Orang yang Menolong Korban KDRT?
Sayangnya, sangat jarang. Purniasih (istri pertama Sadra) berkata ia enggan melaporkan hal ini karena takut tetangga akan tahu. Ia berkata, hanya mertuanya (ibu Sadra) yang kerap kali membantunya. Pemangku adat/sesepuh/yang dipandang terhormat/village elder sungkan untuk mencampuri urusan pribadi tentang hal ini. Padahal KDRT bukan lagi menjadi ranah pribadi. Walau ia memang delik aduan, ada pasal 15 UU PKDRT yang berisi langkah yang sebaiknya kita lakukan jika mengetahui KDRT, seperti mencegah peristiwa tersebut, menolong, dan memberi bantuan, seperti yang dapat dilihat di website Hukum Online.com.

Dalam video ini, pengacara Anggreni dengan Alit (bos Sadra dan Purniasih) melakukan mediasi tentang kasus KDRT di pernikahan Sadra dan Purniasih, yang sayangnya lagi-lagi Sadra menyalahkan kekerasan yang ia lakukan sebagai akibat dari karmanya.



7. Seberapa Setiakah Darma dan Sadra?
Saya kira memiliki lebih dari satu istri sudahlah sangat cukup, namun tidak bagi Darma dan Sadra. Darma memiliki pacar di sebuah cafe, di distrik Red Light. Ia sering menghabiskan malam di sana, berkaraoke dan bermesraan. Istri-istrinya tahu, tapi memilih untuk diam. Ia bahkan berpendapat bahwa jika pacarnya hamil, ia akan bertanggung jawab, karena ia takut dengan karma. Ia tak peduli mau berapa jumlahnya, mau 10 atau 100 orang, selama pihak perempuan mau, ia siap bertanggung jawab dengan menikahi mereka. Barangkali Darma teramat lupa memikirkan bahwa bertanggung jawab tidak hanya urusan nikah saja, tapi secara finansial ke depannya, kesehatan lahir batin, kebahagiaan, keadilan, dst.

Setali tiga uang dengan Darma, Sadra pun memiliki pacar yang berusia 35 tahun dan masih single di distrik Reg Light. Ia berkata bahwa istri-istrinya tidak tahu tentang hal ini, begitu pun dengan pacarnya tidak tahu bahwa Sadra sudah memiliki dua orang istri.


8. Apa Pendapat Anak-anak Mereka?
Anak laki-laki Darma bercerita bahwa selama ia berpacaran, ia sering sekali mendapat penolakan dari orang tua kekasihnya diakibatkan latar belakang keluarganya yang berpoligami. Kadang ada juga yang mengejek atau menyindir seperti "Kok ayahmu berpoligami." atau "Kok ibumu banyak." dan sindiran senada lainnya. Ia juga berpendapat tidak akan berpoligami jika dewasa nanti karena tidak sanggup.

Sementara itu, anak perempuan Darma yang sudah menikah dan memiliki anak, berpendapat bahwa ia tidak mau dipoligami meskipun ayah ibunya melakukan hal itu. "Kalau punya banyak ibu enak, banyak yang ngasuh. Tapi kalau punya banyak madu (istri lain) ya ngga enak. Sakit," begitu kira-kira perkataannya.



9. Tidak Bisakah Mereka Bercerai? 
Dalam kepercayaan mereka, perceraian adalah sesuatu yang dianggap sebaiknya dihindari. Ada juga konsep reinkarnasi yang agak sulit saya pahami. Intinya, jiwa seseorang yang meninggal akan berreinkarnasi berdasarkan jalur patrilineal (jalur laki-laki). Jadi, misal sang istri meninggal, suatu saat ia akan dilahirkan kembali di keluarga anak lelakinya, atau anak lelaki dari anak lelakinya, dan seterusnya. Jika memilih bercerai, mereka juga bisa kehilangan hak asuh, staus 'bermartabat' karena status janda dipandang sebelah mata (bahkan hampir di seluruh Indonesia), dan jiwa (jadi jiwa mereka akan pergi ke limbo, saya cari arti limbo adalah tempat bagi orang yang terlupa).

Hal inilah yang membuat mereka enggan bercerai, sebagian juga karena faktor iba jika anak-anak mereka tumbuh tanpa ayah atau diejek karena orang tuanya bercerai.




10. Mengapa Kiawati, Istri Pertama Darma, Bisa Bercerai? Apa yang Dirasakan Kiawati Setelah Bercerai?
Di masyarakat Bali, terdapat istilah pernikahan nyentana. Dari penjelasan Degung di film, pernikahan nyentana itu seperti pernikahan undangan. Jadi, ketika satu keluarga tidak memiliki anak lelaki, keluarga itu akan mencari calon suami untuk anaknya supaya garis patrilineal mereka tidak terputus. Karena hanyalah pernikahan nyentana, sang istri lebih mudah dalam mengajukan cerai dan hak asuh tetap jatuh ke tangannya. Kiawati sendiri memiliki 3 orang anak, yang satu sudah meninggal, serta kalau tidak salah dua cucu.

Setelah bercerai, ia menuturkan ia lebih bebas karena tidak ada yang mengaturnya untuk melakukan ini dan itu. Di usia tuanya, ia masih bekerja sebagai kuli batu, sembari fokus dengan keluarganya. 




11. Pesan dan Harapan dari Para Istri
Berikut adalah pesan dari narasumber yang sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia

a. Murni (istri kedua Sadra)
"Ketika saya terpikir untuk bercerai, saya langsung teringat anak-anak saya. Sudah, tidak apa-apa suami saya jauh, yang penting anak-anak dengan saya, saya sudah bahagia."

b. Purniasih (istri pertama Sadra)
Purniasih berharap anak-anak perempuannya tidak akan bernasib sama sepertinya. "Saya berdoa supaya Tuhan memberikan kehidupan yang baik untuk putri-putri saya. Hanya itu doa saya."

c. Sulasih (istri kedua Darma)
Sulasih berharap menantunya tidak akan menikah lagi. "Bagaimana mungkin dia tega membawa kesedihan seperti yang saya rasakan?" Lagipula, ia juga berpikir anaknya, Yuli, tidak akan bisa menerima poligami setabah dirinya, jadi ia berharap pernikahan anaknya akan berjalan baik tanpa harus berpoligami.

d. Rasti (istri ketiga Darma)
Rasti selalu memberi nasehat kepada anak-anaknya, "Kalau hendak cari pacar, atau cari suami, ubah keturunan kamu. Jangan ikuti nasib ibumu ini. Karena saya tahu betapa sakitnya jika suami berpoligami."

e. Purnawati (istri kelima Darma)
Purnawati berharap anaknya tidak akan mengikuti jejak ayahnya. "Semoga dengan lingkungan dan pendidikan yang kami beri untuk dia, dia akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk."

f. Suci Ati (istri keempat Darma)
"Bagaimana pun keadaannya, saya akan tetap menjadi istri yang baik yang akan terus mendukung suami saya. Saya hanya akan menikah sekali seumur hidup saya. Saya akan meninggal di sini."

Keenam pesan tersebut terangkum dalam bagian Ketabahan dan Kebebasan. Saya benar-benar berharap, pernikahan poligami mereka, yang menimbulkan luka tersendiri, bisa berlangsung lebih baik daripada dahulu. Selain itu, semoga di tengah ketabahan dan kerelaan mereka menjalani kehidupan yang 'tiwas kelakon' (sudah terlanjur) ini, mereka bisa tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Untuk semua yang terlibat dalam pembuatan film ini, big thanks untuk kalian. Kalian berhasil membuka realita berpoligami di Bali yang tidak semanis madu ini. 

Saya sering menonton film bertemakan cinta, dan tidak ada satu pun film yang sukses membuat saya menangis hanya karena mendengar sedikit penggalan ost, selain film Up. Film Up mencakup seluruh definisi yang saya pahami dalam pernikahan, seperti rasa cinta, kebersamaan, dan kesetiaan. Karena film pedoman saya adalah Up, sudah jelas saya tidak akan bisa bertahan bahkan tidak akan sanggup diberikan opsi berpoligami. Menurut saya, satu untuk selamanya, dalam suka maupun duka, adalah janji yang tak bisa ditawar lagi. Kecuali kalau si suami brengsek ya beda cerita itu hehehe...

Sekian penjabaran 11 poin dari film Bitter Honey: Polygamy in Bali. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya, apalagi kalau sampai selesai. Untuk kritik dan saran, atau koreksi barangkali pemahaman saya salah, ada kolom komentar yang bisa kalian isi dengan mudah.

Cheers!

 

References

Elemental Productons. (2018). Retrieved from Bitter Honey: http://www.bitterhoneyfilm.com/ on June 14th 2020

Lemelson, R. (Director). (2014). Bitter Honey: Polygamy in Bali [Motion Picture].

Letezia Tobing, S. M. (2013, Maret 18). Hukum Online.com. Retrieved from Hukum Online.com: https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5136cbfaaeef9/prosedur-poligami-yang-sah/

Stevany Pangaribuan, S. (2014, April 1). Hukum Online.com. Retrieved from Hukum Online.com: https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt540b420532c10/ini-yang-dapat-dilakukan-oleh-saksi-mata-tindakan-kdrt/

 

 

























Comments

  1. Terima kasih banyak ilmunya Ly. Aku juga sepemahaman dan setuju dengan tulisanmu. Poligami membuat banyak hal harus dikorbankan. Tulisanmu patut ditunjukkan ke banyak orang. Ini bermanfaat. Siapa tahu, dengan ini banyak orang yang pikirannya terbuka tentang Poligami. Semangat terus menulisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa terima kasih Aulyalifaaaa. Mohon dukungannya! Warm hug :)

      Delete
  2. Setelah dicermati, budaya dan agama juga berpengaruh sama pola pikir dan keputusan akhir mereka buat melakukan poligami :'( Gak kuat bacanya, sampai 5 gitu istrinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, apa yang kita baca, dengar, dan yakini bisa memengaruhi tindakan kita. Pak Tuaji sampai 10 orang istri, lho :') Anyway, terima kasih ya sudah mampir ke sini! :) :) :) :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cara Mendaftar Kuliah di UNY Melalui Jalur RPL

                           Mendaftar kuliah lanjutan setelah lulus D3 menjadi salah satu hal yang cukup melelahkan bagi saya. Tidak banyak website yang menyediakan informasi secara detail tentang syarat pendaftaran dan alurnya. Bahkan, untuk mencari tahu apakah ada program ekstensi D3 ke S1, saya harus meluangkan waktu mengecek dan mengontak tim Humas tiap universitas. Semua saya lakukan karena saya bertekad akan kuliah S1 dengan sistem tatap muka reguler. Sampai akhirnya, saya berhasil mengetahui seluruh alur pendaftaran kuliah S1 di UNY yang cocok bagi lulusan D3, yaitu melalui jalur RPL! Singkatnya, jalur RPL memberi kesempatan untuk meraih gelar sarjana bagi lulusan SMA (dengan 5 tahun pengalaman kerja), D1-D3 ( freshgraduate atau dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun), dan mahasiswa yang sempat putus kuliah. Untuk mendaftar melalui jalur RPL, yang harus disiapkan adalah: Berkas pendidikan SMA da...

ARTIKEL MAGANG 2 - Mata Kuliah Penerjemahan di Prodi D3 Bahasa Inggris UNS

  Diploma 3 Bahasa Inggris merupakan salah satu program studi di Universitas Sebelas Maret (UNS) yang berdiri pada tahun 1999. Saat ini, D3 Bahasa Inggris menjadi bagian dari Sekolah Vokasi UNS. Selama 22 tahun berdiri, D3 Bahasa Inggris UNS telah merevisi beberapa mata kuliah supaya tetap sejalan dengan perkembangan teknologi dan zaman. Selain itu, mata kuliah didesain supaya bisa menjadi bekal yang cukup untuk mahasiswa ketika akhirnya terjun di dunia pekerjaan. Secara garis besar, UNS masih mempertahankan mata kuliah penerjemahan karena pada dasarnya program studi D3 Bahasa Inggris UNS berfokus kepada penerjemahan. Berikut adalah ulasan mata kuliah penerjemahan yang dimiliki D3 Bahasa Inggris UNS untuk angkatan 2018-2021 Semester Tiga 1.       Theory of Translation Ini adalah mata kuliah dasar penerjemahan. Karena mahasiswa belum mempraktikkan menerjemahkan teks secara langsung di dua semester sebelumnya, mereka dibekali dengan ilmu dasar pener...

Hi! Welcome!

Today, I can't sleep even though it's nearly 3 AM. Maybe it happens because of a half glass of coffee. I really want to sleep, but somehow because of this situation, I can sit alone in the dark in my room, with no noise appear. Then, there are many old memories come to me, one by one. Most of them are cheerful memories, when I got what I wanted, when I won a competition, and when I shared my time laughing together with my family and friends. I'm grateful to have all of them and I'm happy with the fact that I still remember the warm atmosphere that belongs to them.  However, there are several bad memories too. Even though it all has passed, I still can feel the worry, anger, and sorrow. I'm turning 20 years now, but there are too many wishes of mine that haven't become true yet. Now, I'm going to live out my dream, to do what I love; writing. This blog will be filled by my thoughts and my diary that wrote both in English and Indonesian. I do hope you will get...